Naik kelas 3 SMA dan jantung
semakin berdegup kencang saat waktu semakin mendekati UMPTN (Ujian Masuk
Perguruan Tinggi Negeri). Saya dan sebagian besar teman-teman mengkhusu’kan
diri belajar, belajar dan belajar. Ada yang ikut kursus tambahan, mengikuti
try-out dan belajar bersama. Setiap orang memiliki jurusan impian dan cita-cita
ingin jadi apa kelak. Saya sendiri “sebenarnya” masih bingung memilih jurusan
apa. Bingung karena (1) Saya masuk kelas IPA, padahal jelas-jelas saya itu
tidak berminat dengan dunia hitung menghitung dan hafalan ilmu alam/rumus; (2)
Mau memilih jurusan IPS saat kuliah nanti takut ilmu IPA nya tidak terpakai;
(3) Minat saya cukup jelas, gemar berorganisasi dan hal-hal yang terkait ilmu
sosial (geografi, sejarah dst.) tapi orang tua menyarankan kuliah dengan masa
depan yang “jelas” juga (maksudnya jelas pekerjaannya dan jelas gajinya he3)
Setelah cukup lama khusu’ belajar
meningkatkan kapabilitas passing grade
dan berkontemplasi memikirkan jurusan, akhirnya saya putuskan untuk mengikuti
tes IPC (Ilmu Pengetahuan Campuran) pada UMPTN tahun 1999. Pilihan jurusan yang
akhirnya saya ambil (1) Teknik Metalurgi UI; (2) Kimia Unair; dan (3) Ilmu
Pemerintahan Unpad. Rupanya Allah berkehendak agar saya kuliah di pilihan
ke-tiga.
Ada rasa bangga, haru dan senang
akhirnya lolos UMPTN. Tapi dibalik itu orang tua masih sangsi tentang jurusan
yang saya pilih, sekaligus khawatir juga tentang masa depanku. Periode yang
sangat berat karena saya mati-matian mempertahankan jurusan yang saya pilih. Tidak
mungkin lagi saya ikut tes UIMPTN lagi
tahun depan. Selain karena rugi waktu, malu juga kalo gabung dengan adik-adik
kelas he3.
Kemudian di tanggal 17 Agustus
1999 (sehari setelah pengumuman UMPTN) saya berangkat ke Bandung untuk mengurus
administrasi mahasiswa baru. Awalnya saya pikir akan kuliah di Bandung, tapi
ternyata di Jatinangor yang jauhnya 2 jam perjalanan Damri dari Kampus Dipati
Ukur Bandung. Ya sudahlah, meski lokasinya agak “pinggiran” tapi dijalani saja.
Ini menjadi awal kehidupan lepas dari keluarga dan belajar mandiri.

No comments:
Post a Comment