Monday, January 27, 2014

Aktivis Mahasiswa



Saya sebenarnya bukan tipikal yang ingin aktif sekali di organisasi mahasiswa. Namun karena keadaan yang memaksa akhirnya menjadi konsen juga di organisasi pers mahasiswa kampus.
Ada beberapa organisasi kampus yang sempat dihampiri semasa kuliah di Unpad Jatinangor, seperti HMI, KAMMI, HIMA, LDK (Lembaga Dakwah Kampus) Fisip, KSR (Korps Sukarela) PMI, Merpati Putih, namun  seiring perjalanan waktu hati ini cuma tertambat di POLAR Pers Mahasiswa Fisip Unpad (lebay banget deh he3). Ada beberapa alasan yaitu: (1) Saya tidak kuat berfilosofis dan berpikir terlalu kritis seperti HMI; (2) Waktu itu saya agak sungkan kalo ikuta-ikutan demo Bu Presiden Megawati bersama KAMMI; (3) Gak ikutan pelantikannya KSR dan Merpati Putih; (4) Gak ikutan dan dipilih di kepengurusan HIMA dan LDK (entah kenapa ya sepertinya saya agak kurang sreg juga aktif disitu; dan (5) POLAR diambang mati suri dan salah satu personel yang  masih bertahan adalah saya.
Bergabung di POLAR sejak tahun 2000, namun kevakuman organisasi (karena permasalahan dana, SDM dan legalitas kampus) menjadikan aktivitas POLAR tidak berjalan sebagaimana mestinya. Di tahun 2002 POLAR memberanikan diri terbit (setelah terakhir terbit tahun 1999) dan di saat itu organisasi ini sudah kehilangan posisi strategisnya baik di mata pejabat kampus (dekan dkk.) maupun organisasi mahasiswa lainnya seperti senat dan BPM. Saat suksesi harus dilakukan, akhirnya saya (satu dari dua anggota yang bertahan) terpilih menjadi Pimpinan Umum yang baru. Syukurlah pada saat itu di bulan September 2002 POLAR telah merekrut beberapa anggota baru meski kebanyakan adalah angkatan senior.  
Jadi sesungguhnya terpilihnya saya menjadi ketua itu bukan karena kapasita yang teruji, namun karena (menurut saya) tidak ada lagi alternatif akhirnya dengan mengucapkan “bismillahirahmanirrahim” memberanikan diri menjabat selama satu tahun saja.
Alhamdulillah secara perlahan POLAR kami perbaiki bersama. Berhasil menerbitkan tiga majalah selama satu tahun periode, diskusi rutin yang berjalan teratur, pelaksanaan Sekolah POLAR untuk merekrut anggota baru di tahun 2003 serta menjalin kemitraan strategis dengan Persma lainnya seperti Djatinangor (Fikom Unpad), Persma Unisba dan Tabloid Boulevard (ITB). Waktu itu sempat juga bertemu dengan Pak Budhi Wibawa (Pembantu Dekan I) untuk membicarakan masa depan POLAR tapi sepertinya mentok.
Tahun 2003 saya lengser dan dilanjutkan dengan teman-teman baru. Yang membanggakan dari selama saya beraktivitas di POLAR adalah kami belajar banyak hal bagaimana menghidupkan organisasi yang hampir wafat menjadi organisasi yang dapat “sustain” hingga saat ini. Terlebih lagi kawan-kawan dan adik-adik angkatan seperjuangan telah merintis karir menjadi wartawan beneran.
Sebut saja Indra Subagja (Wapemred Detik.com), Rudini (pelaksana redaktur harian Sindo Jabar),  Agung Wijaya dan  Sandy Indra (Tempo) lalu ada juga di tabloid Kontan dan media massa lainnya. Meskipun saya sendiri memang memiliki karir di bidang yang berbeda.
Mudah-mudahan peran pers mahasiswa semakin baik dan melejitkan potensi anggotanya menjadi pribadi bermanfaat. Amin. 




Thursday, January 23, 2014

Memilih Jurusan



Naik kelas 3 SMA dan jantung semakin berdegup kencang saat waktu semakin mendekati UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Saya dan sebagian besar teman-teman mengkhusu’kan diri belajar, belajar dan belajar. Ada yang ikut kursus tambahan, mengikuti try-out dan belajar bersama. Setiap orang memiliki jurusan impian dan cita-cita ingin jadi apa kelak. Saya sendiri “sebenarnya” masih bingung memilih jurusan apa. Bingung karena (1) Saya masuk kelas IPA, padahal jelas-jelas saya itu tidak berminat dengan dunia hitung menghitung dan hafalan ilmu alam/rumus; (2) Mau memilih jurusan IPS saat kuliah nanti takut ilmu IPA nya tidak terpakai; (3) Minat saya cukup jelas, gemar berorganisasi dan hal-hal yang terkait ilmu sosial (geografi, sejarah dst.) tapi orang tua menyarankan kuliah dengan masa depan yang “jelas” juga (maksudnya jelas pekerjaannya dan jelas gajinya he3)
Setelah cukup lama khusu’ belajar meningkatkan kapabilitas passing grade dan berkontemplasi memikirkan jurusan, akhirnya saya putuskan untuk mengikuti tes IPC (Ilmu Pengetahuan Campuran) pada UMPTN tahun 1999. Pilihan jurusan yang akhirnya saya ambil (1) Teknik Metalurgi UI; (2) Kimia Unair; dan (3) Ilmu Pemerintahan Unpad. Rupanya Allah berkehendak agar saya kuliah di pilihan ke-tiga.
Ada rasa bangga, haru dan senang akhirnya lolos UMPTN. Tapi dibalik itu orang tua masih sangsi tentang jurusan yang saya pilih, sekaligus khawatir juga tentang masa depanku. Periode yang sangat berat karena saya mati-matian mempertahankan jurusan yang saya pilih. Tidak mungkin lagi  saya ikut tes UIMPTN lagi tahun depan. Selain karena rugi waktu, malu juga kalo gabung dengan adik-adik kelas he3.
Kemudian di tanggal 17 Agustus 1999 (sehari setelah pengumuman UMPTN) saya berangkat ke Bandung untuk mengurus administrasi mahasiswa baru. Awalnya saya pikir akan kuliah di Bandung, tapi ternyata di Jatinangor yang jauhnya 2 jam perjalanan Damri dari Kampus Dipati Ukur Bandung. Ya sudahlah, meski lokasinya agak “pinggiran” tapi dijalani saja. Ini menjadi awal kehidupan lepas dari keluarga dan belajar mandiri. 



Kenapa PMR? (2)






Setelah dilantik dan dibagikan kaus biru gratis, anggota baru diminta wajib hadir Latihan rutin per-dua minggu di Mabes (markas besar). Jadi ada pengenalan materi lanjutan tentang P3K dan materi lainnya. Naaah di sini lah “seleksi alam” terjadi. Kenapa yaah teman-teman itu susah sekali kalau hari minggu datang ke kegiatan PMR. Ya malas, ada acara keluarga, acara sama teman dsb. Alhasil setelah beberapa bulan terjadi penyusutan besar-besaran,  sekitar 50% lebih. Kondisi ini semakin parah saat kegiatan PMR itu Cuma itu-itu saja. Tidak ada yang baru, menantang atau spesial.
Sempat dilibatkan juga di dua kegiatan : (1) Lomba Cepat Tepat dan (2) Musyawarah Pengurus. Namun lebih banyak sebagai pemerhati dan perlu belajar banyak. Dua kegiatan ini yang cukup membuka mata bilamana PMR tidak Cuma ngurus obat-obatan dan korban terluka saja. PMR juga bisa bikin lomba skala kabupaten dan menyusun kepengurusannya secara demokratis (wow).
Beranjak naik kelas 2 mulai diamanahi jadi panitia perekrutan. Lalu berturut-turut ikut pelbagai lomba seperti P3K, PBT dan perawatan keluarga di tingkat kabupaten dan provinsi Jawa Barat. Gak sia-sia dan nyangka, selama tahun 1997-1998 menyabet juara umum se-kabupaten Bekasi dan 1997 juara umum ke-2 Provinsi  Jabar. Meski demikian ada konsekuensinya nih, nilai beberapa mata pelajaran saya sempat turun bahkan untuk Fisika memperoleh nilai merah.
Kalau anda mengira bahwa saya “mahir” dalam ke P3K an ternyata salah. Saya sangat menggandrungi kegiatan organisasi di PMR ini. Kami ibarat satu keluarga kecil yang saling melengkapi. Di sinilah saya belajar daroinol kecil tentang apa itu organisasi, mulai dari surat menyurat, rapat kegiatan, perlombaan, mengisi materi hingga mencari dana. Yang nantinya hal-hal ini sangat “berharga” banget sampai kuliah, bekerja dan berumah tangga (he3).
Plus-plus nya lagi PMR menciptakan silaturahmi dengan teman-teman se-angkatan serta kakak-adik angkatan masih awet walaupun sudah berbuntut-buntut. Masih diundang sama adik-adik angkatan untuk hadir di kegiatan PMR. Buktinya ini sms terbaru yang saya terima 19 Januari 2014 lalu:
“Assalammu’alaikum, Malam kakak-kakak Koral. Kami dari PMR 1 tanggal 9 Maret nanti akan diadakan BDC 6, mau nanya ada yang bisa jadi juri gak kak? Mohon bantuannya ya kak. Makasih :D



 













*BDC : Baby Dunant Competition yang merupakan gabungan kegiatan Lomba Cepat Tepat dan Lomba Gerak Jalan PMR se-Kota Bekasi.

Kenapa PMR? (1)



Sumber foto: facebook Pmr Satu Bekasi

Waktu baru masuk SMA tahun 1996 dan masa orientasi sekolah. Kakak pendamping menyampaikan bahwa siswa baru wajib mengikuti kegiatan organisasi ekstrakurikuler/ekskul minimal dua (2). Kebetulan ekskul di SMUN 1 Bekasi itu lumayan banyak, seperti Pramuka, Paskibra, Pecinta Alam, PMR, Pers SMA, Kelompok Ilmiah Pelajar, Koperasi Siswa, Kelompok T
eater dan Olah raga. Sebenarnya saya termasuk “malas” bilamana ikut kegiatan-kegiatan ekskul, apalagi di hari minggu. Saat SMP saja saya merasa “terpaksa” ikut Pramuka karena katanya berpengaruh terhadap nilai sekolah (padahal tidak tuh).
Ya sudah lah, dua ekskul yang terpilih adalah PMR dan Pers SMA. Namun rupanya perjalanan karir di Pers SMA tidak berjalan lancar dan malah tercebur di PMR. Tidak ada niat sebenarnya bergabung di PMR, hanya menggugurkan kewajiban sebagai pelajar baru (he3).
Saat membanding-bandingkan ternyata mayoritas teman satu kelas memilih organisasi yang lebih “menantang” seperti pecinta alam dan Olah raga. PMR dan Koperasi merupakan ekskul di luar kategori itu. Selain itu, setelah usut punya usut ada modus terselubung juga kenapa teman-teman lain memilih PMR: (1) Kakak-kakak PMR tuh cakep dan cantik (ampun deh); dan (2) Ingin jadi dokter (waah baru ngeh). Jauh banget dengan saya yang benar-benar tidak memiliki motivasi “sesungguhnya” gabung ke PMR.
Lalu masa seleksi PMR dimulai, ada tiga tahap nih sebelum kita diterima dan dilantik menjadi anggota baru: (1) caraka malam: seperti ajang melatih mental karena disuruh jalan malam dari pukul 22.00 hingga jelang subuh melalui beberapa pos dengan kata sandi yang rumit plus dimarah-marahi, dikerjain dan dijelek-jelekin pula (ha ha ha); (2) orientasi medan: naah ini baru masuk materi PMR sebenarnya seperti pengenalan obat-obatan, P3K, prinsip palang merah hingga pembagian tugas dalam tim yang terdiri dari bagian kepala, badan, tangan, kaki, caraka, korban dan perawatan. Karena saya badan saya paling tinggi tidak ideal jadi korban maka memilih Kepala (secara perannya paling mudah dan ringan); dan (3) tes lapangan di Gunung Puntang Bogor: paling berkesan nih, karena kita berkemah dua hari (sabtu-minggu), mempraktekkan pertolongan P3K plus evakuasi naik turun gunung, lalu dilantik secara resmi sebagai anggota baru.
Pelantikannya lumayan berkesan dan kedinginan (he3). Setelah praktek evakuasi, kita diminta turun ke curug dan diceburin!! Lalu para Koral (korps alumni yang sudah sepuh) bertanya keseriusan kami gabung ke PMR. Sambil ngancam segala kalau tidak serius disuruh pulang jalan kaki ke Bekasi (wadoh, sampai kita ketakutan). Terlepas dari keterpaksaaan, dengan kesadaran tinggi akhirnya saya, bersama teman-teman, mengucapkan janji setia di PMR SMUN 1 Bekasi angkatan XII. Offcially bisa berkaus PMR biru dan berslayer kuning, Lalu bagaimana selanjutnya setelah dilantik?

(bersambung)

Tuesday, January 21, 2014

Lahir di kota ini

sumber foto:  http://www.tripadvisor.co.id/Tourism-g680181-Jayapura_Papua-Vacations.html


Dilahirkan di kota ini, Jayapura, pada tahun 1981 yang silam mengingatkan pada banyak hal. Lingkungan yang masih alami dan dipenuhi hutan, penduduk yang sangat sedikit, akses informasi yang terbatas dan budayanya yang unil. Di tahun 1988 dengan segala kenangan tersebut saya meninggalkan kota ini karena mengikuti orang tua yang berdinas ke kota lain. Jayapura tetap terkenang sekalipun jauh ditinggal. Saya tidak pernah merasa sebagai orang Jawa atau Lombok (asal kedua orang tua), tapi bingung juga bila mengaku-ngaku sebagai orang Papua (secara rambut tidak keriting dan kulit tidak gelap). Mengaku saja sebagai orang Indonesia saja, toh kita berbeda tetapi tetap satu.

Sebagai pelampiasan rindu setiap berita tentang Papua baik di TV maupun koran dilahap habis. Penampilan tim-tim sepakbola asal Papua (terutama Persipura) menjadi pesona tersendiri, apalagi saat para pemain Papua memperkuat tim nasional.

Alhamdulillah, di tahun 2010 tepatnya di bulan Februari, Allah memberikan saya umur panjang untuk sekedar menengok kembali kota ini. Namun semuanya jauh berubah. Penduduk semakin ramai, jalan-jalan diaspal mulus dan bagus, bahkan kesan sebagai sebuah daerah Papua tidak tampak lagi. Jayapura berkembang semakin maju dan metropolis. Dan sepertinya menimbulkan permasalahan yang sama seperti kota-kota besar lain di Indonesia. 

HambaMu

My photo
Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Numpang lahir dan besar di Jayapura sehingga menjadi pendukung loyal tim Sepakbola asal tanah Papua (Persipura, Persiram, PSSB, Perseru, Persiwa, Perseman, Persiss)... Sehari-hari bertugas di program pembangunan Bappenas (non-PNS) Bapak dua anak yang sangat menghargai "waktu kualitas" bersama keluarga Islam is my choice...